about

Tuesday, December 28, 2010

Suara Mata

Beberapa dari kami mati, sebagian lagi terlahir menggantikan posisi kematiannya. Sebagian saling mencinta; mencintai Tuhan dan isi alam. Sebagian saling menikam, memenuhi kehidupan abadi dengan kebencian mendalam.
Ada yang bercinta. Bukan kisah mereka yang menghabiskan bersama istrinya di atas ranjang. Hanya sebuah kisah antara dua insan yang sedang benar-benar merasakan nikmatnya hirupan cinta lawan jenisnya.
“Aku lihat di matamu.” Ujarku sambil menoleh pada mukanya. Ia diam sesaat, sepertinya rangkaian kata sedang ia siapkan untuk menjawab.
“Maksudmu Mas?” Jawabnya singkat dan tiba-tiba.
“Tahukah kau sayang, aku begitu mengagumi matamu yang sangat indah. Bisa aku merabanya?”
“Ya, Mas. Semuanya adalah keindahan yang Tuhan telah berikan.”
Aku terlalu merasakan nikmat memegang matanya, hingga sesekali air matanya jatuh dari bulatan itu. Sesekali debu itu terusap tanganku dari matanya, debu yang menjadi bagian tersendiri dari rumitnya hidup. Sedikit kurasakan bagaimana tangan ini merasakan pula adanya sentuhan magis yang mengubah dunia.
“Biar tanganku merasakan sayang. Kau tahu betapa kita merasakan gelapnya jalan yang kita lalui bersama. Aku memegang tanganmu seperti matamu memandang mataku.”
“Ya, Mas.” Jawabnya pelan.
Kami berjalan bergandengan dan menikmati indahnya bersama. Melewati jutaan manusia yang sedang berkembang juga menikmati dunia, namun dengan terangnya bukan seperti kita dalam gelap. Mereka juga bergandengan dengan pasangannya, mereka juga menggunakan tangannya untuk menikmati kakinya yang sedang berjalan. Saling memapah namun sekali lagi bukan dari bagian gelapnya, sementara kami tetap saling bergandengan dalam ketiadaan cahaya.
Sesekali kami tersandung. Setelahnya aku duduk barang sejenak menahan lelahnya kaki yang terus menopang tubuh. Kupandangi mukanya sekali lagi, barangkali setiap waktu. Saat kupegang tangannya, sesekali ia tertawa geli. Kugerayangi itu dan kucubit sampai kami merasa sebuah kemesraan yang begitu dalam melebihi imajinasi mereka. Aku menoleh ke depan, ia masih juga memandangiku penuh takjub.
“Apa kau malu menjadikanku sebagai kawan hidupmu?”
“Ah Mas, sungguh tidak. Aku bangga dengan Mas.”
“Boleh ku pegang matamu?”
“Ya Mas, tentu ijinku telah kuserahkan semuanya pada seorang yang aku percaya.”
“Kau tahu betapa sebuah mata tidak bisa di bohongi, dan kau pasti tahu akan itu. Orang berkata jika kau ingin melihat kebohongan seseorang, lihatlah dari matanya. Mata seseorang tidak pernah bisa berbohong.”
Air matanya jatuh saat aku berkata dengan sedikit bayangan suram. Aku merasakannya ketika tanganku memegang matanya untuk kesekian kali. Jatuhnya menyentuh jempolku, menembus pori-pori dan masuk sampai ke darah yang di bungkus nadi. Rasa dingin itu meresap, hingga saat kuhisap air matanya aku merasakan rasa gelap itu.
“Apa kau yakin aku jujur padamu?”
“Aku yakin Mas. Telah kuserahkan semua kasih ini. Jika Mas tanya seperti ini lain kali aku pun akan jawab hal yang sama. Mas tentu yakin dengan air mata tadi yang aku teteskan, lalu kenapa Mas berkata begini? Apa Mas yang ragu akan cintaku?”
“Tidak, sama sekali tidak. Kau tahu diantara wanita yang kukenal adalah mereka yang telah melihatku sebagai orang yang lain dengan dirinya. Kaulah yang telah menerimaku apa adanya.”
Kupegang lagi matanya, ia menangis lagi. “Hentikan air matamu. Aku tahu kau adalah jiwa yang terpisah dari ragaku. Seperti Adam yang menyerahkan tulang rusuknya untuk Hawa.” Aku terdiam sejenak, “tapi tak apa jika kau ingin terus mengeluarkannya, biar tanganku ini terus merasakan kenikmatan yang tidak terlihat.”
“Ah Mas, kau terlalu berpuitis. Aku tidak perlu itu. Bagiku puitis itu hanya bagi mereka yang memuja kata-kata untuk menggambarkan kesempurnaan rupa mereka. Tidak perlu Mas seperti itu, aku bahagia dengan ketulusan kata-katamu yang telah meluluhkan hatiku.”
“Tidak dapat kugambarkan dengan puisi sayang. Kau adalah lebih dari rangkaian kata-kata di dunia. Jika kurangkai kata indah, itu hanya sebagai ungkapan atas kekagumanku pada jiwa besarmu.”
“Ah Mas, kau terlalu berlebih.” Balasnya tersipu malu.
Kami kemudian kembali berjalan saling menuntun, seakan kami tidak peduli akan mereka yang iri melihat kemesraan ini. Lebih jauh, kami juga tidak peduli jika awan yang iri pada kita kemudian enggan menghalangi sinar mentari, lalu kami merasa dahaga karenannya. Namun, aku selalu percaya dahaga itu hilang oleh kuatnya pegangan tangan kami. Hilang seperti awan yang iri itu tertiup angin kencang.
Kami kembali duduk, padahal kami baru berjalan beberapa langkah. Aku telah memantapkan untuk duduk di sini, sebuah tempat teduh karena tidak tersinari mentari, di bawah pohon yang begitu redup rindang serindang hati kami.
“Mas, aku tahu kau tidak lelah, namun kenapa kita kembali duduk?”
“Biar, biar mereka melihat bagaimana jalan yang kita lalui. Walaupun kita hanya melangkah beberapa langkah, namun bagiku jika kita melangkah bersama, langkah kita terasa panjang dan bermakna.”
“Ah Mas, kau selalu membuatku bangga dengan kata-katamu.”
“Tidak sayang. Itu tidak seberapa, jika di banding dengan apa yang telah aku lalui bersamamu.”
Pohon sedikit bergoyang, tapi kami juga tidak peduli akan itu. Aku masih duduk berdampingan dengan kekasih hatiku. Sesekali aku memegang matanya lagi, ia tidak menangis kali ini. Hanya saja, keringat dari keningnya yang bercucuran dan mengalir menuju matanya yang kurasakan. Aku tahu ia lelah dengan teriknya mentari. Kuseka keringatnya dengan sapu tangan dari kantong celanaku. Hirupan nafasnya terasa sampai tanganku.
“Mari kita lanjutkan.” Aku mengajak dan menuntunnya kembali melewati beberapa langkah lagi. Setiap langkahnya terhitung bagai pengalaman bagi perjalanan kami menuju titik akhir kebersamaan.
“Biar ku pegang tanganmu dan aku berjalan di depanmu, agar kau tidak tersandung jika ada batu di depan. Tetap ikuti aku. Kita tidak akan tersesat. Aku yakin.” Nadaku penuh keyakinan.
“Ya Mas, kau adalah imamku.” Balasnya.
Kami pun kembali berjalan. Tangan kananku memegang tangannya; dingin, senyap, dan begitu menyejukkan. Sementara tangan kiriku memegang tongkat. Kuraba jalan dengan tongkatku. Jalan di depan berbatu, namun tongkatku telah merabanya lebih dulu, hingga aku tidak terjatuh karenanya.

2 comments:

  1. cinta, kekasih tak pernah sepi untuk diceritakan. mantap, bung. tapi sepertinya, setiap paragraf mesti dienter. supaya tidak lieuer macana...hahaha

    ReplyDelete
  2. cinta itu universal. namun, tidak dengan cinta remaja. mereka lebih mengira akali daripada ragawi.
    nuhun bah, ke urang edit-edit deui. sukses bah, hayu urang diajar nulis.hehe

    ReplyDelete