about

Tuesday, December 28, 2010

Sajak di negeri sebrang

Sungguhpun aku bukan seorang suci, tapi niscaya tanpa duri bagi kami
kaum-kaum kecil dalam bingkisan sebuah kerajaan surgawi
penghuni-penghuni dengan nama-nama berupa kepolosan, layak seperti dibodohi
ah, sudahlah tak perlu mengutuk satu nama dan peristiwa
ini omongan ketika perut bukan lagi alasan untuk dibohongi, oleh surga
senandung juga nyanyian bagiku seperti untaian kata-kata yang berlalu
aku lihat paman, bibi, emak, nenek, masa seorang kakek
hijrah katanya
lho, Nabi juga hijrah dalam sejarah
seorang mengisahkan pada kami bahwa Beliau datang dengan diam, berlalu menjalani kisah sedih namun bermakna baik bagi seluruh kaum
itu bedanya sejarah

aku direnggut, dipisahkan dari kaumku
aku bukan Nabi, bukan yang tidak bersedih dan suci
aku hina, lho
lho, bukannya yang merapatkan perahunya di ujung dermaga bernama gedung apa itu namanya saya lupa
perut bukannya tidak salah, tapi lapar bisa diobati oleh tawa-tawa mereka di halaman depan teras
sesekali ingin kukutuki “ya”
mereka mengambil keluargaku satu per satu

No comments:

Post a Comment