about

Tuesday, March 22, 2011

Ia, Lelaki Itu

           Dalam pertemuan kemarin, kuanggap ia bukan siapa-siapa bagimu. Setidaknya karena aku sudah mengenalmu begitu lama. Namun, engkau memang sulit ditebak, diammu bukan mengisyaratkan sesuatu, tapi bicaramu tetap juga tetap misteri. Berjuta keinsyafanku juga tidak berarti ladang hijau bagi kita. Tapi, toh aku sudah terlalu lama mengenalmu.
                Seperti siang itu. Saat kutawarkan padamu sebuah kebanggan yang selalu aku sendiri banggakan. Engkau tidak sama sekali menoleh. Malah, kau dengan sedikit risih berkata terima kasih. Aku sendiri bukan orang awam, aku juga mengerti apa arti ucapan itu. Jika saja aku bisa marah, niscaya rasa itu meledak bagai petasan saat musim kawin. Sampai aku berpura-pura kehilangan kesadaran, setelah kau mengucap kata-kata itu, aku beringsut memendam ego. Dengan banyak alibi, aku berpura-pura kehilangan segala yang nyata. Engkau, engkau bukan tidak mengerti. Selalu aku tahu, rupamu begitu dangkal jika kusamakan dengan keresahan ini. Mungkin hanya kau sendiri yang akan tahu apa ini kepura-puraan atau memang betulan. Kuharap kau tersenyum, tapi lantas kau tak bergeming melenggang tanpa menoleh.
                Sementara pohon-pohon melambai padaku, aku berusaha melambaikan juga tangan padamu. Kuharap kau berbalik. Nihil, ternyata dugaanku salah sepenuhnya. Engkau terus melaju bersama seorang yang bukan kuanggap musuh.
                “Tunggu.” Teriakku dengan nada kosong.
                Kau masih juga tak menoleh.
                “Jangan kau buat aku begini.” Kataku lagi.
                Kau masih belum juga mendengar. Punggungmu yang rata telah beranjak pergi digoyangkan oleh kakimu sendiri. Sampai-sampai, dari arahku, kau telihat berjalan angkuh. Kesadaranku kembali pulih. Aku berlari sekencang angin. Kau! Tunggu! Teriakku entah pada telinga siapa.
                “Mas, aku sudah memutuskan.” Katamu setelah membalikkan badan.
                Aku terengah.
                “Aku sudah putuskan untuk tidak lagi mengenalmu, bukankah itu sudah jelas. Seperti inikah sifatmu yang kau agungkan, sifat dewasa seorang lelaki.”
                “Kau sendiri menghianatiku!” Bentakku.
                Lelaki disampingnya diam.
                “Siapa yang berbuat begitu?”
                “Kau!”
                “Bodoh.”
                “Aku memang. Dan, ingat satu hal, perkataanmu ini bukan hal yang baik untuk kuingat. Tapi camkan, jika suatu saat kau menyesal, aku tidak akan sama sekali menoleh padamu barang satu detik!”
                “Sumpah katamu,” ia mengambil nafas, “Sumpah apa yang kau inginkan?”
                “Kau yang melanggar sumpah.”
                Angin bertiup pelan, membawa debu-debu tak beraturan. Terbang, hinggap di satu tempat, lantas terbang lagi tanpa ada yang peduli. Sebagian sumpah serapah memang sudah mulai mereda. Ketika itu aku begitu marah padam memang, tapi ia tidak melayani sama sekali. Mukanya datar. Raut itu masih menggema dalam jengkal-jengkal otak. Sampai ketika aku berusaha mengiyakan bahwa, katanya, aku harus pergi, kemarahanku semakin menjadi.
                “Kuminta satu pinta, dengarkan aku untuk beberapa menit saja! Akan kuceritai kau sesuatu.”
                Ia mengangguk pasrah, sementara lelaki disampingnya tidak berbuat apapun selain terus memandangku curiga.
                Begini: Dahulu, seekor angsa cantik tercipta, ribuan jantan berusaha mendekatinya setiap ia bermanja-manja suatu sungai. Ia memang terlanjur dikutuk oleh kecantikannya, dikutuk pula hingga nyawa-nyawa lain melayang. Banyak dari angsa jantan menyerah, juga banyak dari mereka mati bunuh diri. Mengerikan, mereka membunuh diri dengan terbang setinggi mungkin sampai tubuhnya tidak mampu lagi terbang, terjun cepat, lalu mati mencium tanah.
                “Sudahlah jika itu aku yang kau maksud.”
                “Permintaanku hanya waktu.” Kataku memotong di depannya yang sedang mematung.
                Ia terdiam. Lelaki disampingnya mengerling pada arloji.
                Sampai suatu saat, Angsa yang dulu begitu dipuja dan dipuja, akhirnya merasa sepi untuk kali pertama. Ia malas menggerakkan kakinya saat berjalan di tepi kolam. Ia bahkan malas untuk membuka mulut. Dianggap angsa itu mati, ternyata tidak. Ia sedang berpikir.
                Begini kata si angsa:
                Akan kubuat sebuah perlombaan. Seperti para putri yang akan dipinang. Aku akan meminta sebuah mahar mahkota dari negeri buaya. Mahkota dengan deretan gigi-gigi dari leluhur kaum mereka. Sudah lama aku mendambakannya.
                Berita itu cepat tersebar. Si angsa cantik sudah kembali segar. Banyak dari kaum jantan mencoba, namun sebagian besar hanya menggeleng kepala. Mustahil. Kata mereka. Itu sama saja menyerahkan nyawa pada sang maut. Andai pun berhasil, si buaya akan membalas dendam karena pusaka mereka dicuri hanya oleh makhluk tak berdaya berbulu putih.
                Tersiar kabar, 70 angsa telah mati. Daging mereka terkoyak saat sebelum mereka bisa masuk ke dalam sangkar buaya. Kebanyakan daging-daging mereka dilahap tanpa hitungan detik. Saat itu buaya menjadi keranjingan. Ia begitu senang karena mangsa datang sendiri tanpa harus ia berburu. Buaya-buaya yang lapar sekarang berubah gemuk. Kaum mereka dengan cepat beranak-pinak.
                Sampai suatu hari, seekor angsa jantan muda datang pada si buaya di satu pagi. Buaya yang baru saja berjemur, terkekeh. Ia mengintip berpura-pura menutup mata.
                Dengan gemetar, angsa muda itu mendekat, lantas ia membangunkan buaya tersebut.
                “Tuan, ijinkan hamba datang untuk memohon meminjam mahkota tuan. Jika tuan berkenan, satu hari kemudian akan hamba kembalikan dengan nyawa yang akan saya berikan kemudian. Jika tuan merasa belum cukup, akan kugandakan tubuhku bagaimanapun caranya. Tapi, jika tuan tidak percaya, tuan bisa melahapku sekarang.”
                Buaya itu membuka mata, dihadapannya seekor angsa muda sedang menyembah. Buaya keheranan. Mangsanya sekarang sudah sangat pasrah.
                “Sehari katamu?”
                “Ya. Itu pun jika tuan berbaik hati.”
                “Apa tujuanmu mengambil mahkota kaum kami?”
                “Hamba sudah sangat cinta pada angsa ratu, biar ia tahu bagaimana aku berjuang mendapat itu. Besok juga akan hamba kembalikan. Hanya satu hari.”
                “Setelahnya?”
                “Tuan boleh melakukan apa saja.”
                “Baik, satu hari, kebetulan sekarang aku masih kenyang, mungkin besok aku lapar.”
                Lantas si angsa muda pulang membawa mahkota dengan bertaruh nyawanya sendiri. Bukan hanya keringat atau sepotong daging, tapi perihal nyawa yang akan ia serahkan. Namun, ia begitu bangga karena akan datang seorang ratu meski hanya sehari. Ratu angsa.
                Siangnya si angsa muda datang pada angsa betina. Dengan cepat angsa muda itu berenang menghampiri calon istrinya tersebut.
                “Ratu, kubawakan padamu mahkota yang kau impikan.”
                Si angsa terkejut. Ia dipanggil ratu, dan ia memang akan menjadi ratu dengan mahkota yang sebenar-benarnya mahkota. Dihampirinya angsa muda, matanya menoleh pada mahkota yang tersembunyi dalam sayap kirinya. Sedikit tersembul gigi-gigi buaya berkilauan terkena sinar matahari dan dibiaskan air danau.
                “Aslikah mahkota ini?”
                “Tentu, nyawaku kutaruhkan.”
                Si ratu sumingrah. Mahkota itu disematkan pada kepalanya. Dengan bangga ia mengelilingi danau yang riak airnya tidak terlalu bergelombang. Kepalanya bergoyang-goyang, lantas dikibaskannya sayap hingga air menciprat dari ujungnya. Ratu itu terbang sejenak lalu terjun santai sambil menegakkan kepala sedikit.
                “Sudah lama kuimpikan.” Katanya sambil terengah.
                “Demi ratuku.”
                Wanita yang sedang mendengarku bercerita meneteskan air mata. Ia menutup mukanya dengan sapu tangan. Aku melanjutkan cerita:
                Malam hari, ratu angsa itu bergembira. ia sangat bangga dengan mahkotanya, sampai-sampai ia terus berkeliling memamerkan mahkota itu pada kaumnya tanpa henti. Sedangkan angsa muda sudah tidak bisa berbuat apa-apa, pikirannya akan sampai hanya besok pagi, hidupnya.
                “Ia pangeranku sekarang!” Teriak ratu angsa di atas batu.
                Semua angsa terpana. Tapi, sebagian dari mereka berseru nama angsa muda. Ia dianggap pahlawan yang sebenarnya. Ia berani menghadapi maut. Yang paling mereka kagumi adalah bagaimana ia bisa mengambil mahkota itu tanpa satu helai bulu pun yang rusak.
                Akhirnya, ketika pagi menjelang. Ratu angsa yang sudah terlelap dengan mahkota masih di kepalanya. Angsa muda kemudian pelan mengambil mahkota itu dan pergi menuju sarang buaya.
                Wanita yang sedang di hadapanku melongo. Ia menjepit bibir dengan giginya. Matanya berbinar.
                Ketika sampai, si buaya sudah siap mendapat persembahan.
                “Kau menepati janjimu.”
                “Ya.” Kata angsa muda.
                “Sebenarnya aku tidak begitu tega, apalagi tersiar kabar tentang keberanianmu. Tapi aku juga harus menepati janji. Dan, aku akan memakanmu. Kau siap?”
                “Sesuai apa yang hamba janjikan tuan.”
                “Lantas, apa angsa muda itu mati?” Tanyanya sambil mendekatkan wajahnya pada wajahku yang sedang menunduk.
                “Ya.” Kataku.
                “Mas, lelaki yang sekarang menjadi pendampingku bukan sembarang lelaki. Ia adalah angsa yang memberikkan mahkota itu.”
                “Lelaki tua itu?” Tanyaku masih heran.
                “Ya.”
                “Buktinya?”
                “Ia yang selama ini memberiku kebanggaan, sedangkan kau mas, kau masih belum mengerti apa yang aku butuhkan.”
                “Tapi aku sudah berjuang mencari bekal untuk kita kawin. Lihat, sekarang aku sudah bisa memiliki apapun, aku berjuang.”
                “Bukan soal harta mas,” ia menghela nafas, “ini soal bagaimana cinta itu hidup.”
                “Bohong! Bohong!” Kataku sambil melangkah pergi.
                Kuharap ia akan memanggilku seperti yang kulakukan sebelumnya. Atau kuharap ia akan mengerti perjuangan angsa-angsa yang mati berjuang mendapatkan mahkota.
                Tapi, ia tidak melakukannya meski ia mempunyai mulut!


Babakan sukajadi, 2011

Foto Pak Lurah

               Kututurkan sebuah kisah tentang bagaimana itu dimulai dan berakhir. Namanya juga kisah. Semua terserah pembaca yang menilai. Baik atau buruk atau barangkali serupa jamur di pohon anggrek atau barangkali kisah ini terlalu datar untuk disampaikan. Harap menjadi maklum. Saya terlalu riang menulisnya karena malam sudah terlalu larut dan teman saya sudah beranjak pulang ke rumahnya di bawah bukit sana.
                Awalnya tersebutlah seorang lurah pada zaman ketika Soeharto menjabat pertama kalinya. Seorang lurah bertubuh gempal dengan janggut selebar dagu. Bajunya selalu hitam, kecuali ia sedang di kantor dengan seragamnya dan ketika memakai kolor sebelum tidur sampai ia terbangun dengan keringat sisa semalam. Yang paling kentara dari lurah ini adalah gaya bicaranya yang banyak menyebutkan pengandaian. Hebat ia untuk hal itu. Bagai sutradara dalam teater atau seorang penulis naskah kuno tentang perjuangan diponogoro.
                Pembaca yang budiman. Ia adalah lurah dengan segala keahlian, ia pandai berkebun, bertani, dan membuat komposisi pupuk kandang. Keahliannya ini ia dapat dari ayahnya yang hanya mampu hidup hingga usianya mencapai 40. Namun, kenangannya yang telah membentuk ia menyerupai saat ini. Narrator yang pandai bercocok tanam. Kiranya begitu kisah ini dimulai.
                Warga mengenalnya sebagai seorang yang lebih banyak diam daripada berceloteh tentang kebijakan yang akan ia buat. Maka ketika sebuah kata keluar, kerumunan pamong desa akan mencatatnya dalam sejarah. Raut mukanya berkerut pertanda ia memikirkan betul bobot ucapannya. Pulpen pun seakan bergetar ketika sekertaris desa akan memulai menulis konsep yang entah harus dimulai dengan kata apa.
                Istrinya menilai sang suami adalah seorang idola yang telah meluluhkan hati. Puitis benar kata-katanya, bahkan karenanya ia rela memutuskan silaturahmi dengan juragan padi tetangga desa yang tersohor karena sawahnya berhektar-hektar. Menolak juragan itu ketika meminangnya. Anaknya menilai sang lurah sangat misterius. Tidak seperti lurah sebelumnya yang menjanjikan sawah warisan atau wasiat kekayaan. Hanya sebuah petuah “jadilah seperti bapak.” Katanya.
                Kemasyuran sang lurah tergambar dari foto yang telah terpajang sejak ia menjabat di bulan ke-lima. Juru foto mengambil sudut terbaik, sampai-sampai ia terlihat lebih muda sepuluh tahun dari usianya yang menginjak 45. Pak lurah menyebut sang juru foto adalah orang terbaik untuk mengambil objek dari kamera. Dengan bangga ia selalu melihat fotonya yang terpajang di dinding sebelum membubuhkan tanda tangan dan selalu mengingat bagaimana ia harus tersenyum. Terlebih bagaimana juru foto mengarahkan kemana senyumnya harus berkembang.
                Sesekali istrinya datang berkunjung jika sudah memasak sayur lodeh. Atau jika pak lurah meminta untuk datang saat rapat akan dimulai. Awalnya si istri bingung saat hansip ditugaskan memanggilnya atas nama pak lurah. Namun, akhirnya ia tahu karena setiap ada panggilan itu, maka ia telah siap dengan sebuah cermin, sisir, dan minyak rambut murahan. Istrinya ibarat dukun rias pengantin yang mendandani seorang aktor sebelum pengambilan shooting.
                “Pak, bagaimana kalau kita di foto?” katanya sambil merapihkan baju belakang suaminya, “ya di foto seperti foto keluarga misalnya, kata bapak juru fotonya sangat berbakat.” Si istri melanjutkan sambil sesaat menoleh foto yang sedang tersenyum di sebrang meja.
                “Nanti, kalau ada uang. Biayanya mahal Bu.” Jawabnya singkat.
                “Janji?”
                “Sebelum mati.” Lanjut pak lurah ketus.
                Pembaca yang budiman. Malam semakin sepi, namun kisah ini masih panjang kiranya. Lagi dan lagi saya sebutkan, saya bukan pengarang ulung. Harap maklum.
                Cerita berlanjut ketika suara adzan bergemuruh dari mesjid kampung. Kunang-kunang membawa nyala yang tidak terlalu besar, tapi beruntung listrik sudah masuk desa. Menerang jalan, menerangi bilik, dan menerangi ruang tempat pak lurah bercengkrama dengan istri dan kedua anaknya.
                Sekarang pukul delapan malam. Rasa kantuk masih belum juga menyerang, sedangkan radio sudah tidak terdengar lagi gemuruhnya. Mereka saling memandang, dari satu mata ke mata lain, kemudian berlabuh pada foto pak lurah yang sedang tersenyum. Aneh, foto itu seakan terus ada dimanapun pak lurah berada. Barangkali sedikit gila jika foto itu dipajang di jamban saat bau berak bercampur kentut dan pesing air kencing.
                 “Pak, memang berapa harga satu kali jepret foto?”
                “Ibu terus saja menanyakan itu sejak di kantor. Sudahlah!”
                “Ya, berapa, barangkali Ibu punya uang!”
                “Lima belas ribu, itu pun kita harus pergi ke studio foto abadi di tengah kota.”
                “Ibu ada tabungan, atau ibu jual saja gelang ini.” Jawab istrinya sambil membuka gelang dan menerawangnya perlahan.
                “Sudahlah Ibu ini, nanti saja. Bapak sudah janji toh.”
                Istrinya hanya mengangguk. Kemudian mata mereka tertuju kembali pada foto yang belum juga surut senyumnya.
                “Gagah betul foto bapak.” Kata si istri sebelum beranjak ke ranjang.
                Pembaca yang budiman. Kini hujan turun. Sesekali tetesannya terdengar terlalu merdu. Oh, rangkaian itu bagai nada-nada yang terlalu teratur untuk tidak didengar. Saya teringat sebuah kisah yang diceritakan seorang teman. Namun, ia sudah dewasa. Hingga saya tahu kata-katanya mungkin benar adanya. Katanya jika membikin sebuah kisah jangan meloncat terlampau jauh di kisaran tahun. Ah, tak mengapa, saya hanya senang bercerita.
                Begini. Setelah tidak terpilih kembali menjabat lurah. Pak lurah mulai bimbang. Ia takut orang tidak lagi menghormatinya jika bersua di jalan. Apa jadinya ia jika begitu. Sepanjang hari setelah pemilihan berakhir ia kerepotan menghadapi fakta yang sudah berjalan. Tetangganya yang dulu hanya anak ingusan, telah menjadi lurah. Ia berpikir terlalu keras untuk dirinya sendiri. Alhasil ia jatuh sakit. Sakit yang tidak ada obatnya. Sakit hati.
                “Dibawa saja ke dukun atuh bu!” Kata tetangganya suatu siang.
                Si istri diam. Suaminya memang tidak sakit. Ia baik-baik saja. Ia masih lahap makan. Masih suka merokok. Dan masih bisa bergumul di ranjang. Namun, mungkin karena ia semakin kurus dan pucat basi. Dan lagi suatu hari suaminya muntah darah. Tapi kesimpulannya tidak sakit.
                “Lantas?”
                “Sakit apa ya, bimbang saya menjawabnya.”
                “Dukun bu.”
                “Kau sama saja seperti yang lain Minah, suamiku tidak sakit. Kemarin muntah sekali, tapi tidak lagi. Lihatlah ia sedang tidur pulas sehabis mandiin ayam jagonya.”
                “Nanti kenapa-kenapa bu.”
                “Sebaiknya kita sudahi saja Min.” Kata istrinya lalu masuk ke dalam sambil memegang kangkung di tangannya.
                Pembaca yang budiman. Hujan sudah mulai reda. Mari kita lanjutkan saja.
                Selesai istrinya masak kangkung. Pak lurah sudah terjaga. Ia lalu mengambil kopi yang masih tersisa. Dipandanginya foto yang dulu ia kagumi, meski sekarang ia masih kagum, namun tidak sekagum dulu.
                Pak lurah mengumpat keras tiba-tiba. Mulutnya bersumpah serapah. Nadanya tinggi. Istrinya kaget lalu menghampirinya. Saking tidak bisa bertanya, si istri hanya tertegun dan tidak lagi bisa mendekat. Sekarang jaraknya sektiar dua meter. Itupun terhalang oleh gorden tipis.
                “Sialan si Amin. Ia mengalahkanku di pemilihan lurah kemarin. Apa ia main sogok. Kubunuh ia jika saja benar!”
                Si istri mendatanginya kini, ia sudah tidak tahan mendengar umpatan suaminya yang keterlaluan, “Astagfirullah bapak. Kok bapak mikir gitu. Ini sudah takdir pak. Toh bapak masih mantan lurah, berarti pernah menjabat lurah.”
                “Bisa saja. Toh, aku bakal calon paling kuat. Masa kalah sama anak bau kencur. Ini tidak adil. Pemilihan macam apa itu.”
                “Lihatlah foto bapak, bapak masih gagah, bapak masih lurah bagi ibu. Lihat foto itu. Bapak juga janji akan membawa kami berfoto, bapak masih gagah kok.”
                Pak lurah semakin marah. Ia semakin mengumpat. Istrinya kena semprot. “Kau menghinaku sekarang. Mentang-mentang aku sudah tidak jadi lurah. Apa maksudmu mengatakan aku masih gagah.”
                Istrinya memotong, “Bapak…”
                Namun pak lurah segera menimpali, “Istri macam apa kau!”


Sukajadi 2011

Manusia Ember

Untuk ukuran manusia normal kau telah berubah banyak. Lihatlah cermin jika tak kau percaya. Sebenarnya ini merupakan keraguan bagimu, namun aku telah membuktikannya sendiri. Lihatlah cermin. Aku selalu berkata begitu. Lihatlah cermin!
                Ihwal tersebut tidak terlalu pantas kuucap, apalagi sampai harus berdebat denganmu. Tapi, lagi-lagi, ini semacam jebakan tidak nyata, dan engkau hanya sadar jika mungkin aku beri penjelasan. Sejak lama ingin sekali kujelaskan perihal ini, mungkin ini saat yang tepat, jika pun tidak, aku harap engkau tidak ragu bahwa aku menarik kesimpulan ini dengan sedikit banyak berorientasi pada bab-bab yang lama dikumpulkan.
                Ini berawal ketika kau datang padaku suatu sore. Aku sedang memandang cermin kala itu, melihat-lihat goresan yang tiba-tiba muncul di kening, mencoba berani memegang luka tersebut. Tidak ada satupun yang menyadarkan lamunanku ketika telah lama memandang terdiam, tapi kemudian suara pintu yang kau buka membuat kesadaranku kembali. Kau menepuk pundakku lalu aku tersadar seperti biasa. Kulihat bayanganmu yang telah lama samar, seketika aku tersentak saat tanganku menyalakan lampu yang ada di sebelah cermin. Kau! Teriakku.
                “Lama tidak berjumpa.” Kau bicara seperti kita telah saling melupakan dan mencari satu sama lain. Kau berkata seolah-olah kita baru kehilangan induk untuk kau pegang, padahal kiranya kau tidak datang padaku untuk beberapa bulan.
                Aku masih enggan menatapmu, hanya bayangan di cermin saja yang aku yakini bahwa itu benar-benar kau. Gesture itu masih sama, dan itu yang membuatku yakin. Hanya saja tetap rasa itu bertanya-tanya untuk kesekian kalinya. Ah, lupa, aku beralibi, kau baru mengunjungiku sore ini.
                Kau terlihat mengelilingi setiap jengkal ruangan. Sementara aku enggan beranjak dari cermin, menebak kenapa luka itu tidak terasa sakit. Ah, aku tidak yakin penyebabnya. Kesadaranku sebatas aku menerka, mungkin terjatuh atau sejenisnya. Lalu kau menanyakan padaku perihal foto saat langkahmu terdengar berhenti di depan meja. Aku mengiyakan jika ia perempuan yang sedang hidup berdampingan denganku. Sepertinya engkau akan marah karena menyangka diriku menghianati komitmen kita dulu. Tapi, engkau malah tersenyum. Aku sudah punya sebuah jawaban sebenarnya jika kau bertanya atau marah sekalipun. Ini sudah ada dalam bayangan cermin.
                Kemudian langkahmu tidak berhenti. Aku menghitung berapa kali kau mengetukan sepatu hak tinggimu. Meski pandanganku satu arah, tapi dengan jelas sepasang telinga ini begitu jernih merekam setiap langkah bahkan pertanyaan yang sudah kutahu akan kujawab dengan banyak celah. Tiba-tiba kau tersenyum lagi, “Siapa wanita itu?”
                Aku terdiam, sebenarnya menahan tawa. Bayangan di cermin melihat sebuah mahkota telah menempel pada kepalaku. Sebentar, sebentar, aku akan simpulkan itu secara alfabetis. Maukah kau mendengar penjelasanku! Kataku ringan.
                “Berbaliklah!” balasnya cepat.
                Mulutku terbuka secara pelan dengan tetap memandang cermin. Aku telah berencana mengatur nada bicara agar ia tidak bisa menduga ekspresi apa yang akan kukeluarkan. Aku yakin ia tidak akan curiga sedikitpun. Kecurigaannya tidak bisa mengalahkan logika yang sedang aku mainkan. Dan, aku sangat pandai untuk hal ini. Jelas seperti seorang mafia yang bergerak pelan tanpa meninggalkan jejak. Karena sebelum musuhku merasa sakit, ia sudah mati tanpa menoleh padaku. Lantas kuutarakan semua tentang wanita itu. Au membeberkan bahwa ia wanita yang kuanggap bukan hanya perihal.
                “Kau tahu, banyak lelaki yang kini datang merayuku setiap malam?” Katanya tiba-tiba memotong.
                “Entah.”
                Luka di cermin semakin menganga.
                “Pengecut kau!”
                Senyumku tiba-tiba mengembang mendengarnya berkata begitu. Aku tidak merasa kalah sebagai pengecut. Hanya begitu, jika aku membalikkan badan, aku adalah pengecut yang sebenar-benarnya pengecut.
                Bukti aku diam, aku bukan pengecut.
                “Kemarin,” Ia melanjutkan, “seorang bos sialan, ia mengajakku bekerja di kantornya, yang dulu kau ingat, saat kita masih suka mengadu nasib menyerahkan lamaran pada kantor-kantor, ya, bos itu, kini ia memintaku jadi sekertarisnya, padahal dulu satpam pun enggan melihat jejak kakiku di lantainya, apa aku adalah berkuasa sekarang?”, ia terdiam mengambil nafas, “huh jawablah!”
                “Ya.”
                “Dan, tahukah jika lamaran itu kutolak mentah-mentah, jangankan memandang wajah bos gendut itu, biarpun ia berubah ganteng aku tidak akan sudi bekerja di sana.”
                “Kau yang berubah.” Kataku mencoba berkata walau rasanya tenggorokan ini terlalu kering. Kuharap ia pergi saja. Namun, entah bagaimana nanti, jika ia pergi, dan jika ia tetap disini.
                “Hehe, kau membuatku tersenyum kecut. Tak salah aku datang ke kamarmu, kau sama saja seperti si gendut itu!”
                “Kau masih seperti dulu, mudah dijebak.”
                Ia cepat menyangkal, “Kau kolot! Kau akan selalu begini, miskin!”
                “Aku bahagia jadi diri sendiri. Miskin katamu! Toh aku makan tiga kali sehari.”
                “Sudahlah, tak guna aku bicara. Kau kolot!”
                Dalam bayangan cermin, keyakinanku bergema bahwa dengan cepat ia akan pergi. Mungkin ia muak. Tapi lama aku amati ia dari balik cermin, ia masih terus menyusuri tiap inci kamar. Sekarang ia berbaring di ranjangku. Aku melihat kakinya teracung-acung manja. Sepatunya belum dilepas.
                “Kau masih menyimpan fotoku? Jika masih, buang saja, itu tak perlu kau simpan.”
                “Kau salah, aku masih menyimpannya. Foto itu bukan kau, itu dirimu yang kukenal dalam hanya ingatan. Kau bukan lagi ia, karena aku tak pernah lupa.”
                “Oh, aku belum memperkenalkan namaku. Lupa.” Balasnya sambil cekikikan.
                Ia mengulurkan tangan. Dengan cepat aku menyimpan jari-jariku di saku. Ia menariknya dengan paksa. Aku bersikeras enggan. Tapi sekuat tenaga ia membuat tubuhku goyah lalu terjatuh.
                “Sudah siapa namamu,” Aku berdiri dan kembali menghadap cermin, “siapa heh?”
                “Tak usah, percuma!.” Jawabnya sambil menepuk pundakku keras. Ia kembali ke kasur dan mengacungkan kakinya yang kusadari semakin mulus memudarkan keyakinanku bahwa aku lelaki yang sama seperti lelaki lain.
                “Cuih! Pantas dengan wajahmu yang cantik. Tidak salah kau bergaul dengan bos gendut itu.” Pekikku.
                Cepat ia melempar sepatunya. Aku tersentak kaget.
                “Kau memang selalu bodoh. Ingat boy, terlalu jujur malah lacur. Kau umpat aku dengan si bos gendut itu. Padahal kau tidak tahu apa yang aku lakukan kemarin padanya saat ia memaksa terus, kutendang kelaminnya. Persetan!”
                Ia melanjutkan, “Harusnya kau ada disana saat itu. Ah, tapi kau nanti malah memberiku ceramah agama. Sudahlah.”
                Aku tertegun dengan kata-kata yang keluar dari bibir mungilnya. Sejenak kemudian aku tersentak melebihi sentakan yang ia buat. Kemarahanku sampai pada ujung. Kulihat luka di wajah semakin dan semakin menganga.
                “Sudah malam aku mau tidur.” Kataku sambil menunjuk pintu.
                “Secara tidak langsung kau mengusirku bukan? Alangkah lucunya kau, pantas saja kau bercermin sejak tadi, kau memang tidak pantas lagi bersanding denganku. Eh, lupa, kau sudah dengan gadis kampung itu, eh eh siapa namanya?”
                “Tak perlu kau tahu, aku takut kau cemburu dan malah menyuruh ajudanmu menerornya. Kau sekarang sudah jadi bos bukan? Lihat wajahmu, penuh jarum suntik!”
                “Tahi kau!”
                “Sebaiknya pergi saja, sebelum kau menghancurkan ruanganku.”
                Ia melangkah dengan angkuh.
Sesaat sebelum bayangannya hilang, ia menunjuk cermin. Dari jarak dekat, tidak samar lagi ia memang terlalu cantik. Berapa rupiah yang kau keluarkan untuk merubah hidungnya yang pesek? Tanyaku terkekeh.
                “Tahi!” Katanya sambil melangkah pergi.
                Bayangan itu hilang begitu saja tak berbekas, mungkin hanya seberkas wangi parfum yang kuingat masuk kedalam hidung. Sore, ya, sore itu.
               

Sukajadi, 2011

Anjing Pengintai

Ah, alangkah buruk rupamu hai pengintai. Jika saja aku tahu itu. Kau pasti bukan hanya menggonggong saja namun juga bertanduk. Lidahmu pasti berwarna merah darah, karena kau makan daging setiap manusia yang kau temui. Cakarmu setajam samurai. Sedang taringmu bagai sebuah baja panas, Menusuk tanpa membuat sakit berkepanjangan, karena saat kami sadar, kami terlalu cepat mati.
                Anjing-anjing ada di pasar. Anjing ada di sawah. Anjing ada di kebun. Anjing ada di kantor. Anjing ada di DPR. Anjing ada dimana-mana. Anjing ada di hati siapa saja. Anjing menjelma dewa, menjelma dokter, pasien, satpam, petani, tukang tambal ban, dan anjing menyerupai seorang ustad di pasar malam.
                Perburuan kami terhadap anjing setiap saat ternyata membuat mereka semakin beranak pinak. Jumlahnya bukan main sekarang, ada sekitar ribuan. Salah satunya sudah sangat renta, namun tetap perkasa karena anak-anak anjingnya terus menyuguhi sebongkah kemenyan, tujuh rupa kembang, dan darah segar. Anjing renta itu masih kuat menggonggong, srigala pun takut, bertekuk lutut.
                Buruk sekali rupa itu. Ayah bercerita seakan tidak takut anaknya bermimpi buruk. Bayangkan saja saat itu usiaku baru menginjak 10 tahun. Bukan cerita Sangkuriang, atau Budak Pahatu yang dimakan ular. Hanya sebuah cerita seram tentang anjing-anjing berlumuran darah setiap saat. Jika ada timbul pertanyaanku kemudian, ayah hanya mengangguk. Namun, saat aku bertanya tentang dimana anjing-anjing itu hidup, ia menunjuk pada dadaku. Katanya disini, tepat diantara rasa yang membangkitkan segala pertanyaan dan jawabannya.
                Aku harus hati-hati. Pagi, siang, sore, dan malam. Waspada tepatnya. Ayah menganggap anjing-anjing itu akan semakin buas di hari kemudian. Saat matahari tenggelam, suara bisikannya tepat sampai pada jantungmu yang berdebar ketakutan. Sepanjang malam aku akan menjelma menjadi anak ingusan yang berharap menemukan rumah pohon ketika anjing-anjing itu mengikuti langkahku. Jika tidak kutemukan. Binasalah aku.
                Barangkali cerita ayah berubah nyata sekarang. Rumahku diintai setiap saat. Ayah yang dulu gagah menengahi setiap persoalan, kini hanya duduk di kursi roda sambil terus menatap lubang jendela. Diluar anjing-anjing pengintai terus saja bergantian menatap pada pintu kami, seakan mereka akan langsung berlari menjegal pintu kami jika ada seorang yang keluar. Kami hanya duduk termangu sepanjang hari.
                Sekarang tepat pukul enam sore. Sebentar lagi matahari akan tenggelam. Suasana rumah semakin mencekam, apalagi kami tidak berani menyalakan lampu. Semuanya gelap, hanya sedikit cahaya sebatang lilin yang nyalannya terus diterpa hembusan nafas. Kupegang gagang telepon dan berharap seorang polisi akan datang segara, menghalau anjing-anjing itu, dan jika mereka mampu membunuh satu-persatu anjing itu. Percuma, kata Ayah. Percuma, polisi-polisi itu juga sebagian telah menjelma menjadi anjing.
                Aku hanya diminta berdoa. Barangkali itu harapan terakhir agar besok pagi anjing-anjing itu lelah dan melanjutkan perburuannya di hutan saja.
                Dan, ketika aku terbangun pagi hari. Kulihat bayangan anjing-anjing itu tampak jelas di dinding sebelah kanan tubuhku, di bawah lukisan ikan yang sedang berenang diterjang ombak.

Madenda

Barangkali aku terlalu menghayal, maka tamparlah aku. Jika itu benar, barangkali namanya saja yang patut kuingat. Kami tidak hanya berpisah, kami sama-sama pergi dan dipisahkan.
                Koran pagi ini memberitakan kematian seorang gadis yang diperkosa. Menurut dugaan polisi, pelaku lebih dari dua orang. Hasil otopsi semakin menguatkan dugaan itu. Lembaran kedua mengisahkan pejabat yang berhasil lolos dari jeratan penjara karena kasus korupsinya tidak terbukti. Lembaran berikutnya iklan, lembaran berikutnya sebuah artikel tentang seni karawitan.
                Madenda, tiba-tiba aku kembali ingat namanya. Seorang pemuda tampan nan gagah yang selalu mengenakan baju hitam. Nama yang diambil dari salah satu laras tersebut kembali menggema dalam ingatan. Ia seakan hadir menyaksikanku dan menutup koran itu bersama.
                Lama sekali. Tanyaku dalam kebisuan.
                Matanya menatap kearahku, sambil berkedip ia meniupkan angin bersama hembusan kerinduan yang tidak juga hilang setelah lama tidak bersua.
                Dua tahun lalu ia adalah Madenda, sekarang ia juga Madenda. Madenda yang hilang dan dihilangkan. Aku tidak pernah melupakan pertemuan malam itu, ketika awan tidak menghalangi sinar bulan purnama. Di sebuah mushola kecil di pinggir kali. Ia datang dengan tiba-tiba membawakan sebuah kesegaran.  Tutur katanya, serta cara ia berjalan mengingatkanku pada almarhum bapak. Aku seakan menemukan kembali sosok yang lama hilang.
                “Madenda.” Katanya singkat mengawali pertemuan kami, “wudlu?” tanyanya cepat.
                “Di sungai.” Kataku mengisyaratkan.
                Ia membuatku berkedip dan melayang, bukan karena aku sedang berhayal tentang sebuah pertemuan yang tidak pernah terencana. Namun, lebih karena aku kagum pada gerak dan lakunya.
                Enda. Keluhku.
18 bulan lalu ia menghilang, padahal saat itu usahaku untuk mempertemukannya dengan Ibu berjalan baik. Ibu setuju pada keinginanku menjadikannya suami, mengingat usiaku sampai pada masa dimana aku sudah harus mempunyai imam.
Ia menghilang, tanpa kabar juga tanpa sinar rembulan.
Tersiar banyak kabar tentang kedatangan dan kepergiannya. Sesekali aku muak mendengar ketidakadilan yang Enda terima. Alasanku untuk tidak menerima itu karena memang aku lebih mengenalnya luar dan dalam daripada yang mereka tahu. Aku adalah hatinya jika ia berbuat, dan aku layaknya pikirannya saat ia akan berkata.
Enda, ia dikabarkan terlibat aksi terorisme dengan jaringan Al-Qaeda. Entah berita apalagi itu, jika benar pun itu bukan Enda yang kukenal. Hanya jelmaan Enda yang sedang ada dalam kepahitan atau kebenaran yang ia rasakan.
Kembali kuingat. Dalam menghabiskan masa yang indah, ia selalu menunjukan padaku tentang bulan. Kenapa ia bisa purnama dan kenapa bisa terang seperti sinar harapan. Katanya, lihatlah selalu purnama. Kau akan selalu mendapatkan segala ketenangan dan kebersamaan.
Ia, Enda adalah seorang purnama, tetap purnama meski awan hitam sekarang menghalangi.
Sejak kepergiannya, bulan selalu terang. Selalu kusempatkan untuk beberapa waktu berteduh dibawahnya sambil mengenang kembali bintang-bintang disampingnya. Tidak ada rasa curiga akan kepergiannya, semuanya berjalan tenang dan mudah.
Di mushola tempat dulu kami bersapa, tidak ada lagi aliran sungai yang terbasuh oleh jejak kakinya yang kokoh. Hanya seberkas kenangan, atau sebanyak ingatan yang terlupakan.
“Kau selalu ada saat purnama.” Begitu katanya mesra.
Sambil membelai angin malam, kesejukan terasa sampai tiada lagi angin malam yang dingin. Seperti seorang yang merindukan kehangatan, ia muncul membawa sebuah api kecil, lalu kami mengelilinginya sampai api itu padam. Kami jaga hangatnya.
“Ceritakan padaku apa yang kau tahu tentang purnama.”
“Mas,” Kataku, “kau adalah purnama.”
Mukanya menengadah ke langit. Tempat bulan berdiam diri menyaksikan betapa ia iri melihat kami yang sedang memandangnya penuh harap. Jawabanya sungguh kusuka. Sambil menunjuk ke atas, ia berkata, “Jika kau lelah, bulan adalah bejana yang akan menampung rasa lelahmu.”
Air mata tidak berhenti mengingat keindahan malam itu. Seketika kami ucap janji, sampai tiada hari tanpa dingin dan air mata. Kami hanya menghidupi kemenangan malam ini, tiada lain. Purnama bersinar.
Dan, mendadak kehebohan ini membuat aku muak
##
 “Cukup.” Kata Ibu sambil meyakinkanku untuk tidak lagi berharap purnama.
Sebagai sebuah gelas tentu aku adalah kosong dan berharap Enda mengisi dengan madu, namun ibu adalah pembentuk gelas itu. Bisa saja tubuhku retak jika kukatakan bahwa seharusnya memang aku terus mengenang ia. Mengenang keindahan malam itu. Sedang aku harus, aku harus betul menjadi anak berbakti. Sejak kecil. Namun cinta Enda adalah bakti yang sedang ingin kuberikan, jika bisa selalu saja kulakukan dua-duanya.
“Kenapa dengan Enda Bu, tak usah percaya dengan perkataan mereka. Selagi bukti masih tidak diketahui.”
“Sudahlah, kau pernah bercerita pada Ibu jauh hari. Kau adalah perempuan tegar yang akan bersuamikan seorang sarjana. Kalian akan menghabiskan masa tua dengan saling berbagi ilmu dan melengkapi. Apa kau lupa?”
“Aku adalah diriku saat ini, masa itu bukan masa sekarang.” Jawabku kesal.
Ibu seakan datang untuk memecahkan sinar purnama. Setelah lama kusimpan dan bersinar, ia melaju lebih cepat agar purnama itu tiada lagi terucap dari mulut.
“Bagaimana jika benar?”
“Sama sekali salah!”
“Aku sudah dewasa dalam hal ini, dan hatiku merasakan bahwa ia akan datang.”
Berbulan-bulan purnama terus bersinar.  Kabar tentang kedatangannya yang akan segera terus bergema melalui cahaya yang tak pernah padam.
Esok adalah hari pertama di bulan September. Ketika bulan redup, aku menggigil menantikan kabar yang sebenarnya usang untuk terus diteliti. Bukankah cinta butuh pengorbanan, dan aku siap untuk berkorban. Lalu bagaimana dengan korban. Akulah korban itu.
“Enda, itukah kau?”
Ketika mata terbuka, bayangan itu jelas semakin ada. Ia akan datang pagi ini. Mimpi semalam adalah sebuah teka-teki yang sudah tidak lagi buram. Itu nyata.
Enda datang dalam sebuah tulisan. Ia tertangkap sebagai kurir pemboman di kota kami.