about

Thursday, January 27, 2011

seikat bunga janji

Dahulu aku pernah dijanjikan sebuah ikat bunga perpisahan yang akan menemani tanah pengubur jasadku. Sejak itu aku bahagia menanti. Bukan karena aku akan mati, melainkan janji itu terbayar lunas. Dengan begitu aku akan tersenyum untuk kali terakhir bersama bunga yang begitu aku sukai meski tidak lazim untuk ditaburkan.
Aku jelang hari-hari itu, katanya ia akan datang seminggu lagi. Harap-harap cemas menggerayangi seluruh isi kepalaku. Selalu saja muncul bayangan ikat bunga yang akan segera menyapa halaman depan. Terlintas raut muka yang begitu sangat aku kenal. Alis, mata, hidung, rambut, perawakan, dan jambang. Mirip betul Mas Pram. Hanya satu yang membuatnya beda, aku tidak yakin dengan isi hatinya.
Waktu memang bergulir sangat lambat. Sepanjang pagi ini aku masih duduk menghadap jam besar. Jarum itu tidak bergerak sama sekali, sedangkan ayam yang biasa berkokok juga hilang entah kemana. Aku semakin gelisah. Gelisah lalu menunggu siang dan berlanjut sampai sore. Kemudian jika malam menjelang selalu ada tanyaku pada rembulan apa gerangan ikat bunga itu akan hadir esok.
Aku sudah lelah duduk di kursi ini. Dengan terbata-bata aku melangkah ke teras depan. Barangkali saja ia. Hawa disini lebih tidak bersahabat dibanding ruang tengah, udara menjelma menjadi kawanan cacing-cacing pengintai yang terus saja melahap dagingku yang sudah tidak lagi beraroma. Biarlah, aku masih menjaga mataku karena mungkin ia akan datang siang ini. Atau mungkin aku terlalu takut mati jika ikat bunga itu belum juga hadir di pangkuanku.
“Mas Pram, ia belum juga datang.” Keluhku pada daun yang jatuh dari pohon mangga. Aromanya sedikit aku kenal karena Mas Pram menanam mangga itu dengan cangkulnya yang berwarna serupa cinta.
Kusibakan selendang dan mengatur mukaku sedemikian teratur. Barangkali dengan begitu ia tidak akan terlalu asing melihat kembali wajahku yang sudah sedemikian renta. Dan, barangkali ia tidak akan mengenali wajah asing ini jika rupaku kusut. Namun angin berperang dingin denganku. Ia menyapaku terlalu keras, sedang aku tidak yakin akan melawan dengan apa, angin hanya musuh yang bergejolak tanpa rupa.
Sayup terdengar seorang datang, tapi ia bukan orang yang aku tunggu. Mataku masih bisa sedikit awas. Dari kejauhan langkahnya terlihat cepat. Sebelum aku sempat beranjak dari tempat dudukku, ia sudah berada di hadapanku dan menyerahkan amplop berwarna coklat.
“Apa ini Min?”
“Entahlah Nek.” Jawabnya sambil berlalu masuk kedalam rumah.
Amplop itu sedikit tebal. Aku menduga isinya beberapa surat yang dikirimkan oleh adikku yang kini sedang merantau di negri sebrang. Aku begitu mengenal tanda tangannya yang serupa angsa di kolam ikan. Perlahan-lahan kubuka dengan sedikit penasaran. Ternyata beberapa lembar uang dan sebuah surat yang tulisannya sudah tidak lagi bisa kubaca. Kertas itu aku putar sampai berkali-kali, namun nihil, aku tidak juga bisa mengerti isinya.
Mimin datang dari arah belakang sambil bertanya tentang isi amplop itu. Aku hanya menyerahkan secarik kertas dan menyuruh membaca keras-keras. Dengan sigap ia mengambil kertas itu dengan tangan kanan, sedang tangan kirinya menyerahkan secangkir teh panas. “Minumlah dulu Nek.” Katanya sembari menyimpan cangkir itu di tanganku yang gemetar.
“Apa isinya Min?” Langsung saja aku bertanya selagi Mimin masih berusaha memahami isi surat itu. Raut mukanya datar, namun keningnya berkerut tajam.
“Bu Rasih tidak akan pulang tahun ini, kontraknya diperpanjang.” Katanya kemudian.
“Tak apa Min, masih ada engkau dan seorang yang aku tunggu.”
Aku kembali meraih surat itu dan menciuminya. Mimin lalu duduk dihadapan kakiku sambil memeluk betisku. Rasanya hangat seperti aroma teh itu, namun dingin seperti isi surat adikku. Tanpa kusadari air mata lalu mengalir perlahan sampai jatuh dari daguku. Mimin yang kaget mendengar isakku lalu memelukku lebih erat.
“Mimin tidak akan pergi kemana-mana Nek, Mimin janji.”
Ah,ingatanku berlabuh pada suatu kejadian sepuluh tahun lalu. Tidak kusangka betul gadis yang sekarang sedang memelukku adalah orang yang begitu setia menemani perjalananku tanpa Mas Pram. Awalnya ia hanya seorang gadis lain. Aku tidak mengenalnya dan sama sekali tidak mau mengenalnya. Namun, aroma teh yang setiap pagi dan sore disuguhkan telah lama meluluhkan pendirianku akan pandangan terhadapnya. Ia memang bukan anakku, hanya anak Mas Pram bersama wanita lain.
“Min, berapa usiamu sekarang?”
“Duapuluh Nek.”
Ia masih saja memanggilku nenek. Sejak pertama bertemu, memang aku tidak menghendaki sama sekali kehadirannya di rumah. Mungkin ia menepati janjinya untuk tidak memanggilku Ibu atau semacamnya. Dan waktu itu Mas Pram setuju karena aku begitu marah setelah tahu ia punya anak dari wanita yang keberadaannya selalu ditutupi Mas Pram dengan alibi.
“Panggilah aku Ibu.” Lantas aku merubah sikapku yang dulu sangat bersikeras.
Mimin tersontak kaget. Ia berdiri sambil menghadap mukaku. Tubuhnya menunduk dan didekatkan pada kedua mataku. Aku kaget ketika ia mencium pipiku sekeras aroma teh. Lagi-lagi aroma teh.
“Sudah saatnya kau kawin Min.”
Mimin masih belum melepaskan pipinya juga. Ia tampak sangat bahagia. Dengan susah payah ia berusaha memelukku sampai tidak lagi menghiraukan suaraku yang sudah sangat tidak terdengar jelas. Terus lama sekali sampai aku merasa tidak ingin lepas dari hangatnya tubuh Mimin yang beraroma parfum khas bunga melati.
“Kau tidak jawab Min?”
“Apa?”
“Kawin?”
“Kawin? Aku belum mau, aku belum ingin dipisahkan dengan Neee,” ia berhenti sejenak lalu melanjutkan, “Ibu, dan dibawa suamiku entah kemana.” Kata-katanya sedikit bercampur gemetar.
Kami berdua berpelukan semakin erat. Sementara aroma teh yang sudah semakin pekat menjalar pada hidungku beradu dengan angin-angin hangat berbau melati dan daun mangga.
Mas Pram, aku terharu pagi ini. Sejak lama engkau pergi, dan tahukah aku begitu rindu punggungmu yang selalu kauminta untuk dipijit. Tangisku pagi ini hanya bersama anakmu bukan anakku, tapi engkau telah meninggalkan kenangan yang tidak jua aku mengerti. Aku kangen Mas. Desakku pada ulu hati yang kini tertambat pada pelabuhan seorang gadis muda bernama Mimin. Tangisku sudah tidak lagi membentuk dendam dan kerisauan. Hatiku luluh seakan mengikuti rasa hausku akan sebuah kehangatan orang yang mendekap rasa sayangku setiap pagi.
Seikat bunga akan datang pagi ini. Ketika Mimin melepas pelukannya dan berlari ke dalam rumah sambil terus saja terisak haru. Seikat bunga akan datang pagi ini. Suara isak Mimin datang memenuhi relung hati dan menyayat rasa iba. Seikat bunga akan datang pagi ini. Seperti apa yang Mas Pram janjikan sebelum terakhir ia menghembuskan nafas tentang seikat bunga.
Aku menghapus air mataku sambil menatap terus ke arah jauh. Hari ini mungkin akan datang seiring kebahagiaan dan hangat aroma melati tubuh Mimin. Kecemasan yang meliputiku perlahan kubuang dengan setiap hembusan nafas yang semakin berat.
Pagi ini. Ya, pagi ini. Sudah sekian lama aku tunggu. Lupakan sejenak kisah busuk yang disampaikan adikku dalam suratnya. Aku hanya akan menunggu seikat bunga yang akan datang sebelum matahari kembali menyerang ubun-ubun bumi. Hatiku sudah semakin yakin, dan lagi suara-suara yang berbisik lembut kedalam telinga terus saja mengatakan kebenarannya.
Sejurus lurus mataku terus kutatapkan kedepan. Barangkali di balik pohon mangga, dibalik pagar bambu, atau dibalik pohon angsana itu seseorang yang akan menemuiku dengan ikat bunganya hadir.
“Min, Mimin apakah itu ia Min?” Aku berteriak ketika seorang lelaki yang perawakannya tegap sedang berjalan kearah teras rumah dengan bunga mawar ditangannya. “Min, apakah ia Min? kemari Min!”
Mimin datang sambil berlari membawakan sebuah koran lusuh. Air matanya turun membasahi pipinya yang memerah. Ia terisak seakan ingin berteriak namun tertahan karena bibirnya gemetar. Wajahnya menjadi semakin merah padam karenanya.
“Min, anakku Mizwar datang Min. Lihatlah ia berjalan padaku membawakan seikat mawar.”
Tangis mimin pecah bersama jeritannya. Koran yang dipegangnya dilemparkan kepangkuanku sambil kemudian ia berjalan menjauhi pandanganku. “Anak yang ikat bunganya kau tunggu itu telah mati lima tahun lalu tertabrak kereta.”
Ah, foto-foto dikoran itu begitu indah menggambarkan Mizwar yang tegap selalu.

 
 
Bandung 2011

No comments:

Post a Comment